- cQ Indo•Forum -

Berbagi ilmu & pengetahuan di cQ Indo•Forum
 
HomePortalFAQSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in

Share | 
 

 Adjie Notonegoro Lahir Kembali karena Kritik

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
M
cQ•Forum Visitor I
cQ•Forum Visitor I


Male Number of posts : 31
Age : 31
Location : Jakarta
Hobbies : ---
Real Name : ---
Rank Member : Special Member
Registration date : 2008-07-04

PostSubject: Adjie Notonegoro Lahir Kembali karena Kritik   Wed Jul 09, 2008 5:40 pm

SELALU berhati-hati dengan setiap ucapan, siapa tahu ucapan dapat mengubah hidup seseorang. Seperti desainer Adjie Notonegoro.

Sore itu, di House Of Adjie, butiknya yang bergaya klasik di kawasan Kramat Pela, Jakarta Selatan, Adjie menerima SINDO untuk berbincang. Wajahnya kelihatan segar, padahal seharian tadi dia sibuk mengecek detail demi detail kreasi rancangannya untuk pasar di London.

"Tolong sambungkan ke Altamoda, dong," pinta Adjie pada asistennya. Rasanya Adjie belum menemukan bahan yang tepat untuk busana rancangannya. Keriuhan tersebut mengingatkan pada salah satu adegan di film Devil Wears Prada. Di mana Miranda Priestly, Editor In Chief Runway sibuk memadu-padankan busana untuk halaman mode. Ketika hari beranjak malam dan semua urusan terkendali, dia menyempatkan waktu untuk menjawab pertanyaan seputar karier, hidup, dan cinta.

Bagaimana masa kecil seorang Adjie Notonegoro?

Masa kecil saya mungkin bisa dibilang, saya anak mama, dan saya tidak bisa jauh dari ibu saya. Juga, secara jujur saya mengakui memang dari kecil sudah senang menari, menyanyi, dan terus berkembang untuk membuat baju. Dulu sering ikut mama ke tukang jahit.

Adjie Notonegoro lahir pada tanggal 18 Juli 1961 dari pasangan Djati Priyanto dan Ibu Ami. Dia mengaku memiliki darah seni dari ibu dan kakeknya.

Kemudian bagaimana masa remaja Anda?

Masa remaja, saya boleh dibilang anak yang gampang bergaul, dari kalangan mana saja, saya banyak kenal orang di Jakarta. Saya bukan remaja bandel, tertib, tidak keluyuran, saya bersahabat dengan Samuel (Samuel Wattimena red) dan Indri. Dan saya tidak memandang tingkatan atau derajat, untuk saya semua sama saja. Yang penting prinsip dalam hidup kita saling menghargai. Masa remaja saya bukan aneh-aneh, pesta pun tidak seperti sekarang, tidak kenal miras atau narkotika.

Lalu pencerahan seperti apa sampai Anda menemukan fashion sebagai hidup?

Sebenarnya kami bertiga- saya, Samuel, dan Indri- senang fashion, tapi Samuel lebih dulu dan dia menang lomba rancang. Dan saya tidak pernah ikut lomba rancang. Saya kuliah di Trisakti sampai sarjana muda, lalu melanjutkan ke Paris dan Jerman. Memang sejak awal, lulus SMA saya makin giat merancang, tetapi ayah saya ingin saya jadi dokter atau ekonom. Makanya saya sempat kuliah di Trisakti sebelum melanjutkan ke Paris dan Mueller, Jerman, untuk belajar jadi desainer.

Proses pencarian jati diri seorang Adjie Notonegoro berlangsung sampai dengan kepulangannya ke Tanah Air. Meski sudah memegang gelar untuk fashion di sekolah Muller and Sohn, namun dia sempat limbung dan "terjerumus" dalam dunia film. Tercatat Adjie pernah bermain dalam film "Ayu dan Ayu" karya Sophan Sophiaan dan "Biarkan Kami Bahagia" karya Rima Melati.

Menikmati bermain film?

Itu adalah pengalaman yang berharga, namun nyatanya saya tidak terlalu tertarik di film. Panggilan jiwa saya bukan di situ, melainkan jadi perancang.

Tanggal 13 April 1986 menjadi babak baru anak muda bernama Adjie Notonegoro dalam kancah mode Tanah Air. Pertama kali dia menggelar fashion show bersama di bawah Studio One di Hotel Hilton. Selang beberapa waktu, koleksi Adjie mendapat kritikan dari seorang wartawan.

Dan kritikan tersebut?

Membuat saya lebih bersemangat. Yang membantu saya pada masa itu pun adalah Widyawati. Katanya, itu hal biasa jika kita dikritik. Tunjukkan suatu hari kalau kamu bisa. Dan itu menjadi cambuk untuk menunjukkan pada semua bahwa saya mampu menjadi perancang terbaik di Indonesia.

Kemudian Widyawati menjadi sahabat dan muse bagi Adjie. Wanita penting dalam kehidupan dan kariernya.

Siapa saja muse Anda? Dan seperti apa kriteria mereka?

Mbak Cami, dia kakak saya, penasihat, panutan. Saya juga belajar banyak dari almarhum Prajudi, Widyawati, Avi Basuki,dan Karenina. Untuk Nina, apa yang saya lihat sehari-hari berbeda dengan dia saat di atas panggung.

Dia bisa menjadi superstar di panggung. Begitu juga dengan Avi Basuki, kesehariannya dia tomboi, namun ketika berada di atas panggung, dia adalah bintangnya. Widyawati, kita kenal dia cantik, ayu, anggun, dan ketika muncul dalam film, dia menjadi sosok yang luar biasa.

Dalam periode 22 tahun berkarya, kelihatannya semua berjalan mulus ya?

Tidak juga, dalam kehidupan saya sebagai perancang tidak mulus. Banyak juga dapat masalah, tidak disukai sesama perancang. Semua itu saya telan saja, itu adalah kerikil. Tiap orang menuju sukses ada jatuh bangun, namun bagaimana kita tetap bertahan.

Saya yakin semua cobaan yang diberikan Allah adalah agar kita lebih waspada. Biasanya dengan hal seperti itu saya introspeksi. Tak kenal maka tak sayang, banyak yang bilang saya sombong. Padahal, tidak ada niat ke situ. Saya hanya tidak suka basa-basi.
Back to top Go down
View user profile http://www.cqindo.co.cc/
 
Adjie Notonegoro Lahir Kembali karena Kritik
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
- cQ Indo•Forum - :: Entertainment :: Fashion :: Gosip Fashion-
Jump to: